Nabire || Papua Tengah Mitra TNI – POLRI.com
Di tengah suasana duka yang menyelimuti Ruang Kamar Jenazah RSUD Nabire, Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu, S.I.K., menunjukkan bahwa transparansi bukan sekadar konsep, melainkan tindakan nyata yang harus hadir ketika masyarakat membutuhkan kejelasan.
Dalam ruang yang dipenuhi rasa kehilangan, ia memilih untuk berdiri langsung di hadapan keluarga korban guna memastikan setiap informasi disampaikan dengan jujur, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kapolres datang pada Sabtu (29/11/2025) dan langsung menemui keluarga korban, yang didampingi tokoh adat seperti Kepala Suku Distrik Paniai Barat, Kepala Suku Mee, dan Kepala Suku Besar Meepago. Kehadiran para tokoh ini memperlihatkan bahwa proses klarifikasi menyangkut anak muda Papua harus selalu melibatkan unsur adat agar setiap keputusan yang diambil mampu diterima secara bermartabat oleh semua pihak.
Sebelum insiden terjadi, jajaran Polres Nabire sedang mengikuti rapat koordinasi bersama TNI dan Satpol PP mengenai pengamanan Kamtibmas menjelang bulan Desember. Pada saat yang sama, sekelompok wisudawan merayakan syukuran di kawasan Tanah Merah, kemudian sekitar 20 hingga 30 orang memutuskan untuk melakukan konvoi tanpa adanya izin pengamanan, sehingga meningkatkan risiko yang tidak terukur bagi para pesertanya.
Rombongan kemudian membentangkan tiga lembar bendera Bintang Kejora dan melaju dari Tanah Merah menuju Pasar Karang lalu ke arah Auri. Untuk mencegah potensi gangguan keamanan dan menjaga keselamatan masyarakat, aparat langsung melakukan upaya penghalauan yang terukur agar arus lalu lintas tetap terkendali tanpa menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap pengguna jalan lainnya.
Ketika anggota kepolisian turun dari kendaraan untuk menghentikan rombongan, korban yang berada dalam konvoi justru menabrak seorang anggota polisi hingga membuatnya terpental dan tidak sadarkan diri. Korban ikut terjatuh, dan situasi semakin kacau ketika beberapa peserta konvoi yang berputar arah kembali menabraknya, sehingga menyebabkan tabrakan beruntun yang mengakibatkan cedera berat pada dirinya.
Korban sempat sadar saat berada di Polres Nabire, namun kondisinya menurun secara drastis sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Nabire untuk mendapatkan penanganan intensif. Meski tim medis sudah memberikan tiga kali resusitasi jantung dan menyuntikkan epinefrin, pada akhirnya nyawa korban tidak dapat diselamatkan dan ia dinyatakan meninggal dunia pada malam yang sama.
Dalam pertemuan tersebut, Kapolres menyerahkan dua dokumen penting kepada keluarga, yaitu surat pernyataan penolakan autopsi serta surat penyerahan jenazah untuk proses pemakaman. Selain itu, ia menegaskan bahwa pemeriksaan medis menunjukkan korban meninggal murni akibat kecelakaan lalu lintas dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang mengarah pada tindakan kriminal lainnya.
Sementara itu, anggota kepolisian yang tertabrak mengalami cedera berat pada kedua kakinya hingga tidak mampu digerakkan. Ia sedang dirawat di RS Bhayangkara Jayapura, dan jika kondisinya tidak menunjukkan perkembangan yang cukup baik, maka ia akan dirujuk ke RS Polri Kramat Jati di Jakarta untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Perwakilan keluarga, Edison Pigay, menyampaikan bahwa mereka menerima penjelasan Kapolres secara jujur dan terbuka setelah mendengarkan uraian lengkap mengenai kejadian tersebut. Ia menambahkan bahwa keluarga menganggap insiden ini sebagai musibah karena tidak ada satu pun dari mereka yang menyaksikan langsung peristiwa itu, sehingga mereka memilih untuk menyerahkan seluruh kebenaran hanya kepada Tuhan.
Jenazah rencananya akan disemayamkan terlebih dahulu di Kalibobo sebelum dibawa ke Paniai, sambil menunggu kedatangan ayah kandung korban dari Obano. Setelah semua keluarga berkumpul, mereka akan membawa jenazah pulang ke kampung halaman untuk dimakamkan sesuai tata cara adat agar kepergian korban mendapat penghormatan terakhir yang layak.
Kepala Suku Distrik Paniai Barat, Yusak Kudiyai, mengungkapkan rasa duka yang mendalam sekaligus memberikan apresiasi atas keterbukaan polisi dalam menjelaskan kronologi kejadian. Ia juga mengimbau anak-anak muda agar tidak melakukan konvoi tanpa pengamanan dan selalu bersikap hati-hati di jalan karena setiap tindakan berisiko dapat membawa akibat yang tidak pernah diinginkan.
Kapolres Nabire menyampaikan rasa hormat atas sikap terbuka keluarga dan tokoh masyarakat serta memastikan bahwa Polres Nabire akan terus menjaga transparansi selama seluruh proses berlangsung. Ia menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat merupakan fondasi utama bagi terciptanya keamanan, sehingga setiap langkah yang diambil harus selalu berlandaskan kejujuran dan keterbukaan.
Di tengah rasa kehilangan yang mendalam, pertemuan ini menunjukkan bahwa kebenaran selalu memiliki ruang untuk disampaikan secara bermartabat ketika semua pihak memilih duduk bersama.
Pada akhirnya, duka memang tidak dapat dihindari, namun kejujuran mampu meredakan kegelisahan dan memberikan jalan bagi penyelesaian yang lebih manusiawi. Nabire belajar lagi bahwa transparansi bukan hanya kewajiban institusi, tetapi juga jembatan penting untuk menjaga keutuhan dan kedamaian masyarakat. (Aw)


















